Feeds:
Tulisan
Komentar

[Berlin] Salah satu program pendidikan di KBRI Berlin adalah penyelenggaraan kursus Bahasa Indonesia bagi Pentur Asing. Kursus bahasa ini diselenggarakan sejak bulan September 2008 yang diikuti oleh 30 peserta untuk kategori Dewasa dan 10 peserta untuk kategori anak-anak. Para peserta tidak saja diajari bahasa, tetapi juga pengenalan budaya Indonesia.

img_3021

Pada promosi bahasa Indonesia yang ke dua ini mengambil thema “Marilah belajar Bahasa Indonesia” dihadiri kurang lebih 60 pengunjung yang diadakan di Gedung Perpustakaan KBRI Berlin. Kali ini Grup Gamelan Lindu Raras yang anggotanya terdiri dari pemuda dan pemudi Jerman menampilkan Gending Ladrang Manten yaitu gending penyambutan tamu pada acara pernikahan tradisional yang dikuti dengan Tarian Pambadya oleh Linda Schmitz dan Helena Rossner dengan lemah gemulai.

Pada kata sambutan penulis, asisten atase pendidikan, mengatakan bahwa bahasa indonesia adalah bahasa yang sangat simpel, tidak ada artikel tidak ada perbedaan kata benda, atau dalam bahasa jermanya “Indonesisch leicht zu erlernen”. Pengunjung sangat antusias dengan program ini dan bertanya sangat detail tentang kehidupan dan budaya di Indonesia. Di akhir pertemuan para pengunjung disuguhi makanan kecil khas Indonesia.

[Bonn] Lebih dari 50 menteri Pendidikan dari seluruh dunia serta 800 wakil pemerintah dan ahli telah mengikuti Konferensi UNESCO World Conference on Education for Sustainable Development yang diselenggarakan oleh UNESCO bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan dan Riset Federal Jerman (BMBF) di Bonn dari tanggal 31 Maret sampai dengan 2 April 2009. Visi global dari United Nation (UN) pada dekade ini adalah membuka peluang pendidikan untuk semua orang dan memungkinkan setiap orang mendapatkan ilmu pengetahuan, nilai dan sikap diri di masyarakat agar siap menghadapi masa depan. Beberapa aspek penting untuk itu antara lain: sikap sadar lingkungan; biodiversitas; perubahan iklim; potensi; keadilan sosial dan kekuatan ekonomi. Peserta konferensi juga mendiskusikan pendidikan berkelanjutan yang dapat diperkuat baik di daerah-daerah tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Salah satu titik berat adalah pertukaran antara negara-negara industri dengan negara berkembang.

Pada pertengahan dekade UN ke-dua, Meteri Schavan berharap bahwa pembentukan jaringan internasional di pendidikan dan riset lebih diperkuat. Pendidikan adalah kunci utama untuk kesejahteraan dan perkembangan masyarakat. Oleh sebab itu, tujuan millenium ”Pendidikan untuk Semua” harus menjadi prioritas, kata Menteri Schavan.

Selanjutnya, Schavan mengatakan pentingya mengutamakan pembelajaran seumur hidup (lifelong learning) dan juga pendidikan harus dimulai pada masa anak-anak. Selain instansi-instansi pendidikan tradisional seperti taman kanak-kanak, sekolah, dan perguruan tinggi, lokasi-lokasi belajar lainnya juga harus dimasukkan, misalnya di tempat kerja. Untuk itu, pemberi kerja harus menjadi mitra dalam hal ini.

Pada konferensi ini delegasi Indonesia dipimpin oleh Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D., Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Ibu Prof. Dr. Retno Sunarminingsih Sudibyo, M.Sc., Koordinator Nasional Education for Sustainable Development, Prof. Suyanto, Ph.D, Direktur Jenderal Mandikdasmen, Hamid Muhammad, Ph.D, Dirjen PNFI, Dr. R. Agus Sartono, Kepala Biro PKLN, Depdinnas, Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd., Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, dan Dr. Tresna Darmawan Kunaefi, Duta Besar RI untuk UNESCO Paris.

img_36571

Delegasi RI membawakan kertas kerja dari Menteri Pendidikan Nasional yang berisi tentang ”Indonesia’s Best Practices in Education for Sustainable Development” yang dibagikan kepada peserta konferensi. Peran aktif delegasi Indonesia sangat menonjol dalam berbagai kegiatan baik dalam plenary session dan workshop, maupun sebagai anggota dari drafting group. Berbagai masungkan penting telah diperoleh oleh anggota delegasi baik dari materi-materi yang disampaikan, informasi-informasi yang dibagikan dalam bentuk buku, leaflet dan file, termasuk pameran, dan juga diskusi-diskusi antara sesama peserta, mulai dengan pendidikan dasar dan menengah, pendidikan vokasi, pendidikan tinggi, pendidikan formal dan informal, yang akan digunakan sebagai masukan dalam menyusun langkah-langkah ke depan, khususnya untuk Komite Nasional UNESCO Indonesia. Selain itu acara ini sebagai sarana untuk konsolidasi untuk menyusun aktivitas dan program-program ke depan. Beberapa langkah strategis telah didiskusikan antara sesama anggota delegasi yang mewakili banyak kepentingan di Departemen Pendidikan Nasional.

Konferensi di tutup dengan suatu aklamasi yang menyetujui suatu deklarasi yang disebut Bonn Declaration, yang terdiri dari 19 butir pernyataan dan dapat dibagi dalam 4 komponen, yaitu berbagai isu dalam bentuk pernyataan (Statements of Issue), Education for Sustainable Development in the 21st Century, Progress in the UN Decade of Education for Sustainable Development, dan A Call for Action.

i-get-potsdam-20091

[Potsdam] Pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi didunia meningkat seiring kebutuhan manusia akan energi listrik. Saat ini, Iceland merupakan negara pelopor yang pemanfaatnan energi panas ini dengan daya lebih dari 500 MW untuk mesuplay listrik. Demikian pula perkembangan pemanfaatan panas bumi di Jerman menunjukkan grafik yang dinamik lebih dari 100 MW untuk pemanas berasal dari energi panas bumi ini. Para saintis eropa memilih Travale di Itali sebagai pusat penelitian geothermal yang memiliki reservoar geothermal yang efektif sebanding dengan 1000 energy yang dihasilkan dari power plant tenaga angin. Hasil eksperiment tersebut disampaikan pada pertemuan Conference International „I-GET“ (Integrated Geophysical Exploration Technologies for deep fractured geothermal systems) di Potsdam. Enam Negara Eropa berpatisipasi dalam proyek uni Eropa ini yang bertujuan untuk mengembangkan cutting-edge geophysical methods with which potential geothermal reservoirs can be safely explored and directly tapped.

Dr. Ernst Huenges, Head of Geothermal Research di GFZ (Geo Froschung Zentrum)- German Research Centre for Geosciences mengatakan bahwa „The new methods deliver important decision-support for the selection of sites for future geothermal projects. With this we can considerably reduce the risk of expensive misdrills“. Beberapa methode terkini telah dicoba dieksperimenkan pada beberapa lokasi yang berbeda dan memiliki kondisi geologi dan termodinamika yang khusus antara lain: Travale/Itali (metamorphic rocks) dan Hengill/Iceland (volcanic rocks), dua deposit dengan temperature medium pada deep sediment rocks are Groß-Schönebeck/Germany and Skierniewice/Poland. Metodologinya berdasarkan pada seismic dan konduktivitas listrik yang memberikan informasi tentang karakteristik fisik dari batuan di kedalaman.

Koferensi yang berlangsung selama 2(dua) hari ini dihadiri beberapa ahli dari Indonesia, Selandia Baru, Australia, Jepang, Jerman dan Amerika diantara para 120 saintis berasal 20 negara. Dr. Widya Utama, Kaprodi Geofisika, Jurusan Fisika ITS mempresentasikan potensi geothermal di daerah Ngebel Jawa Timur, Dr. Rahmad Sule, Jurusan Pertambangan ITB memaparkan program magister geothermal di ITB pada sesi Poster. Disamping itu, Dr. Makky Sandra Jaya, dari Jurusan Fisika-ITS yang saat ini bekerja dalam proyek I-GET bersama Frei Universitas Berlin melaporkan hasil penelitian seismic geothermal. Dari KBRI Berlin diwakili oleh penulis, asisten Atase Pendidikan dan Silvy Arifin, kepala Fungsi Ekonomi sebagai peserta dan pengamat pada konferensi kali ini.

Bagi Indonesia konferensi kali ini sangat bermakna sebagai sarana untuk menjalin kerjasama pengembangan geothermal dan mengekplorasi potensi panas bumi, dimana Indonesia yang memiliki energi panas bumi sebanyak 27 gigawatt (GW) dan baru terpasang sebanyak 1 gigawatt (GW). Selain itu, energi lain yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti minyak bumi antara lain energi hidro sebanyak 75,7 gigawatt yang baru terpasang sebesar 4 gigawatt.

[Berlin] Indonesia dan Jerman sepakat untuk menambah  3(tiga) proyek kerjasama Bioteknologi yaitu utilization of shrimp shell waste for microbiological production of chitin, innovative biotechnlogic strategies to produce high value indonesian agarwood and olfactory active compounds, dan multifeedstock biodiesel processing with full utilization of crops, dan melanjutkan 7(tujuh) proyek yang telah disepakati dalam kerangka kerjasama Indonesia-Jerman di bidang bioteknologi (IG-Biotech). Pertemuan Indonesian-German Biotechnology Steering Committee Meeting ke XV telah berlangsung di Berlin, delegasi RI dipimpin oleh Dr. Teguh Rahardjo, Deputi Menteri Riptek, Kementerian Negara Ristek dan Prof. Dr. Umar Anggara Jenie, Ketua LIPI dengan anggota terdiri dari Prof. Dr. Andrianto Handojo, Ketua Dewan Riset Nasional, wakil-wakil kantor Meneg Ristek, BPPT, LIPI, serta KBRI Berlin. Delegasi Jerman dipimpin oleh Dr. Peter Lange, Direktur Jenderal Dept. Life Sciences, Kantor Kementrian Pendidikan dan Penelitian (BMBF).

img_3298

Kiri ke Kanan: baris pertama Dr. Teguh Rahardjo, Peter Hassenbach Baris ke dua: Dr. Shilpi Saxena, Dr. Johann Diedrich Schladot, Prof. Dr. Andrianto Handojo, Prof. Dr. Wahono Sumaryono, Prof. Umar Anggara Jenie, Adi Santoso Ph.D., Dr. Stefan Lampel, Prof. Dr. Ir. Bambang Prasetya, Selli Salmoen, Prof. Dr. Agus Rubiyanto, Sylvia Arifin

Pada pertemuan ini dibahas agenda pertemuan antara lain: pemaparan perkembangan penelitian dan pengembangan bioteknologi Indonesia-Jerman, laporan dan pembahasan proyek-proyek hasil kesepakatan pertemuan bulan September 2006 di Yogyakarta (Steering committee Meeting XIV) dan proposal baru Indonesia-Jerman dalam bidang bioteknologi. Dalam skema kerjasama IG-Biotech, penelitian harus melibatkan 2 institusi yaitu 1 (satu) riset dan 1(satu) industri dari kedua negara yang dikenal dengan skema dua plus dua . Pembiayaan pihak Jerman didukung oleh Kementerian Ristek Jerman (BMBF) dan Program beasiswa Kementerian Pendidikan Nasional Jerman (DAAD), sedangkan di pihak Indonesia biaya ditanggung oleh masing-masing institut dan didukung melalui Program Insentif (competitive grant) Kementerian Negara Riset dan Teknologi.

Kerjasama bioteknologi Indonesia dan Jerman sudah berlangsung sejak tahun 1979 dan pada tahap pertama tahun 1979-1999 dengan skema satu plus satu, artinya keterlibatan satu atau lebih institut, baik dari masing-masing negara. Pada saat itu pihak Indonesia diwakili peneliti dari unit-unit BPPT dan salah satu contohnya adalah pemanfaatan biogas di Cakung. Prioritas utama adalah proyek-proyek yang mengutamakan kerjasama antara baik instansi riset maupun perusahaan dari kedua negara. Titik berat kerjasama adalah Bioteknologi Tanaman dan Pembibitan Tanaman, Pembersihan Air limbah dan Sampah Industri dengan Bioteknologi Pangan dan Fermentasi Makanan. Sejak tahun 2000, suatu proyek yang baru dimasukan adalah „Molecular Farming“ sebagai unsur untuk produksi obat suntik.

Indonesian-German Biotechnology Steering Committee Meeting telah berlangsung selama 30 tahun, pada umumnya diselenggarakan dua tahun sekali. Pada umur yang hampir dewasa ini pihak Indonesia mengusulkan diseminasi informasi perihal succes-story Industri dari Kerjasama Bioteknologi Indonesia-Jerman. Beberapa alternativ diseminasi informasi antara lain melalui website, brosur, booklet. Pihak Jerman mengusulkan, agar publikasi dapat dilakukan oleh Biocom Agency dan diharapkan konsep awal dari rencana tersebut selesai pada bulan Juni 2009. Kerjasama dengan pemangku kepentingan para ilmuwan dan pihak industri Indonesia-Jerman selama ini merupakan kerjasama yang saling menguntungkan ke dua negara. Kerjasama compementary Indonesia sebagai negara kaya dengan biodiversity dan Jerman dengan teknologi innovative dapat dimanfaatkan untuk alih teknologi, pertukaran informasi dan best-practices ke dua negara.

Kampung Tiergarten, tepi Sungai Spree, Maret 2009.

img_2819

[Berlin] Sejak tahun 2003 mahasiswa Swiss Jerman University (SGU) Jakarta melakukan kerja praktek di Jerman bekerjasama dengan University Applied Sciences Südwestfallen Soest di Negara bagian Nordheim Westfallen. Saat ini terdapat 141 mahasiswa yang melakukan kerjapraktek dalam bidang Perhotelan, Management, Mekatronik dan Informatik di perusahan kecil dan menengah kata Prof. Dr. Juergen Guterberg, Dekan Mekatronik dari SGU selama kurang lebih 6(enam) bulan. Program internship/praktek kerja/magang yang pada semester 3 dilaksanakan di Indonesia, dan semester 6 dilaksanakan di manca negara (German dan Swiss). Magang di luar negeri ini memperkuat orientasi global program SGU.

Penulis sebagai wakil KBRI Berlin memberikan sambutan dan pengarahan kepada mahasiswa dalam Wellcome Party fuer SGU-Praxissemester Studentent yang diadakan pada tanggal 10 Februari 2009 di Audimax, University of Applied Sciences Südwestfallen Soest yang dihadiri oleh para Professor dan Pejabat kota Soest antara lain; Horst Bernsdorf, wakil walikota kota Soest, Prof. Dr. Hans- Ulrich Hensche, dan beserta staffnya, dalam sambutan berharap: agar mahasiswa menjadi Duta Bangsa dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya menggali ilmu dan teknologi yang ada di Jerman. Sambutan secara detail berikut ini.

Grußwort

zur Welcome Party für SGU-Praxissemester Studenten

10. Februar 2009, 17.00 Uhr

Audimax, Campus Soest, FH Südwestfalen

Sehr geehrter Herr Horst Bernsdorf,

stellvertr. Bürgermeister der Stadt Soest,

Sehr geehrter Herr Vizepräsident der FH Südwestfalen,

Prof. Dr. Hans-Ulrich Hensche,

Sehr verehrter Herr Prof. Jürgen Grüneberg,

Dekan für Mechatronik der SGU und Koordinator für die Praxissemester,

Liebe Studierende der FH Soest und der SGU Jakarta,

Es ist mir eine Ehre und eine ganz besondere Freude, dass ich heute abend zur Begrüßungsparty für die Studierenden aus Indonesien in die wunderschöne Stadt Soest eingeladen wurde und dass ich als Vertreter der Indonesischen Botschaft in Berlin einige Worte an Sie richten darf.

Als stellvertretender Leiter der Bildungsabteilung in der Indonesischen Botschaft weiß ich, wie schwierig, ja, nahezu unmöglich es für viele indonesische Studierende ist, nach Deutschland zu kommen, um hier ein oder gar zwei Semester als Praktikanten zu verbringen. Wenn sie die sprachlichen Voraussetzungen durch Absolvieren eines Sprachkurses erfüllt haben, dann müssen sie eigenständig einen Praktikumsplatz suchen. Daran scheitern jedoch schon die meisten, denn wie soll man vom anderen Ende der Welt eine geeignete Firma finden, ohne die Möglichkeit, sich vorab persönlich vorzustellen? Wie sich bewerben, wie seinen Aufenthalt finanzieren, wo man als Praktikant nur sehr wenig oder gar keinen Lohn erhält?

Hat man es trotz aller Widrigkeiten geschafft, kommt man in eine Kultur, die der indonesischen so fremd ist wie dem Wüstenfuchs das Polarmeer. Der Kulturschock ist vorprogrammiert und viele brechen das Praktikum vorzeitig ab.

Das ist schade, denn Deutschland, besonders die deutsche Wirtschaft, hat ein hohes Ansehen in Indonesien. Deutschland gilt auch in der globalen Wirtschaftskrise als hoch technologisiert, stark, vertrauenswürdig und modern. Der Wunsch, in Deutschland zu studieren oder ein Praktikum zu absolvieren, ist enorm groß.

Was wir brauchen, sind Programme zur vollständigen Betreuung unserer Studenten, angefangen vom Deutschkurs über die Überwindung bürokratischer Hürden bis hin zur Suche nach Praktikumsplätzen, der weiteren Betreuung während des Aufenthaltes in Deutschland und zur gemeinsamen Evaluierung nach der Rückkehr. Das ist nur zu leisten durch starke Partnerschaften zwischen Hochschulen, wo Menschen tätig sind, die ganz genau wissen, worauf es hier ankommt: um Sensibilität für fremde Kulturen, Überzeugungskraft, Organisationstalent und Freude am interkulturellen Austausch.

Die Kooperation zwischen der Stadt Soest, der Fachhochschule Südwestfalen und der Swiss German University Jakarta ist hier beispielhaft und meines Wissens auch einzigartig in Deutschland. Was Sie unseren indonesischen Studierenden ermöglichen, verdient unseren allergrößten Respekt und Dank!

Verehrte Gäste,

Ich bin mir sicher, dass meine indonesischen Landsleute nach ihrem Aufenthalt in dieser Region voller positiver Eindrücke nach Hause zurück gehen werden. Sie werden Deutschland in guter Erinnerung behalten und sie werden sich dankbar zeigen, sei es, dass sie den Kontakt zu neu gewonnenen Freunden halten, später vielleicht selbst Gastgeber für deutsche Studierende sein werden, oder dass sie im Berufsleben Kooperationen mit deutschen Firmen bevorzugen.

In diesem Sinne leisten Sie durch ihre Arbeit einen bedeutenden Beitrag zu unserer diplomatischen Mission: Ihrem unermüdlichen Engagement verdanken wir es, dass unsere Völker näher zusammen rücken, dass wir uns gegenseitig besser verstehen und dass unsere freundschaftlichen Beziehungen sich weiter vertiefen. Deshalb gilt unser größter Dank den Verantwortlichen der Stadt Soest, der Fachhochschule Südwestfalen und der Swiss German University für Ihren beispielhaften Einsatz.

Verehrte Gäste,

Lassen Sie mich zum Abschluss noch ein Wort an meine Landsleute richten. Ihnen, liebe Studierende der Swiss German University, wünsche ich eine lehrreiche Zeit voller positiver Eindrücke. Schließen Sie Freundschaften, lernen Sie die deutsche Kultur kennen, seien Sie offen für das Neue und Unbekannte, das Sie erwartet. Und vergessen Sie dabei nicht, Botschafter Ihrer Heimat zu sein!

Vielen Dank.

Pada acara ini para mahasiswa menampilkan beberapa kesenian antara lain tari bali, tali saman, tari minangkabau dan juga bermain aklung yang diiringi dengan biola dan gitar. Setelah pertunjukkan para mahasiswa didatangi staf walikota yang berharap, bahwa mahasiswa dapat menampilkan kesenian Indonesia ini pada pesta musim panas di Soest. Diplomasi kesenian mahasiswa di kota Soest ini merupakan sesuatu yang sangat berharga untuk mempererat hubungan Jerman dan Indonesia.

Kampung Tiergarten, tipe Sungai Spree, Februari 2009.

Tulisan Sebelumnya »